Cincin tunangan adalah ungkapan cinta dan komitmen pria untuk menapaki jenjang hubungan yang lebih serius dengan wanitanya. Itulah sebabnya, pria kerap kali memberikan cincin tunangan saat melamar wanita.

Tradisi melamar dengan cincin tunangan sendiri sudah hadir sejak lama, bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Sebagai simbol cinta dan komitmen, ternyata penggunaan cincin tunangan memiliki sejumlah aturan tak tertulis yang seringkali diikuti oleh para pasangan.

Apa saja, sih, aturan-aturan tersebut? Yuk, simak ulasan lengkapnya di sini!

Kapan Tradisi Menggunakan Cincin Tunangan Dimulai?

Sebenarnya, di awal-awal tradisi ini hadir, penggunaan cincin tunangan bukanlah suatu hal yang romantis. Pasalnya, dulu cincin tunangan menjadi simbol kepemilikan.

Cincin tunangan pertama kali digunakan pada masa Romawi Kuno. Menurut Gemological Institute of America (GIA), di masa ini para wanita Romawi menggunakan cincin yang terbuat dari batu, tembaga, besi, gading, dan tulang. 

Setelahnya, para wanita mulai mengenakan cincin yang terbuat dari emas. Hal ini terbukti dari ditemukannya cincin emas di antara reruntuhan kota Pompeii. 

Tak hanya itu, bangsa Romawi pun ternyata senang memiliki dua cincin tunangan dengan material berbeda. Jika berada di dalam rumah, mereka akan menggunakan cincin tunangan besi. Namun, jika keluar rumah, mereka akan menggunakan cincin tunangan emas.

Meski awalnya cincin tunangan menjadi simbol kepemilikan, namun seiring berjalannya waktu, makna cincin tunangan bergeser menjadi lebih bermakna. Tak lagi sebagai penanda kepemilikan, pemberian cincin tunangan kemudian berubah menjadi lambang dari keinginan seorang pria untuk menikahi seorang wanita.

Di tahun 1477, untuk pertama kalinya cincin tunangan berlian digunakan. Cincin berlian ini diberikan oleh Archduke Maximilian of Austria kepada Mary of Burgundy saat melamarnya. Di masa itu, penggunaan cincin tunangan berlian pun mulai populer di kalangan bangsawan.  

Di era Victoria, model cincin tunangan yang mengombinasikan berlian dengan batu permata lainnya, seperti safir, rubi, dan zamrud, sangatlah populer. Tak hanya itu, cincin dengan ukiran floral juga banyak disukai.

Aturan Membeli Cincin Tunangan: Berapa Harga Idealnya?

Dulu, ada kepercayaan (terutama di negara-negara Barat) bahwa pria harus menghabiskan 1-3 kali gajinya untuk membeli cincin tunangan. Membaca angka tersebut tentu membuat Anda sedikit cemas, bukan?

Tapi, jangan khawatir. Seiring perkembangan zaman, kepercayaan tersebut mulai hilang karena dianggap tak lagi relevan. Para pria pun tak lagi membeli cincin tunangan dengan harga berkali-kali lipat dari mereka, tetapi menyesuaikannya dengan budget yang mereka miliki.

Bahkan, beberapa pasangan sudah cukup terbuka untuk membicarakan budget yang ingin mereka keluarkan untuk membeli cincin tunangan.

Mengapa Banyak yang Memilih Cincin Tunangan Berlian?

Karena kilau cantiknya, sebenarnya wajar jika berlian begitu disukai sejak kemunculan pertamanya di tahun 1477. Apalagi, di tahun 1947, De Beers juga memulai kampanye “A Diamond is Forever” yang membuat batu berlian semakin digilai.

Dalam kampanye ini, ini De Beers memaparkan bahwa berlian adalah batu permata yang spesial karena memiliki makna yang begitu mendalam.

Berlian adalah batu permata dengan ketahanan paling tinggi. Ketahanan berlian ini menjadi simbol untuk pernikahan yang abadi. Sementara, kemurnian dan kilau cantik berlian adalah representasi dari komitmen pria kepada wanita yang ia cintai.

Tak hanya memiliki makna yang dalam dan romantis, berlian juga hadir dengan beberapa pilihan potongan atau bentuk, seperti round, princess, emerald, heart, dan masih banyak lagi. Hal ini memberikan pilihan model cincin tunangan berlian untuk pria yang ingin melamar wanitanya.

Aturan Menggunakan Cincin Tunangan

Pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orangnya adalah: cincin tunangan harus digunakan di jari mana? Pada dasarnya tak ada aturan yang jelas dalam menggunakan cincin tunangan, hal ini tergantung pada kepribadian masing-masing. 

Beberapa pasangan merasa belum resmi bertunangan jika tidak menggunakan cincin tunangan. Beberapa pasangan lain, merasa cincin nikah lebih penting daripada cincin tunangan.

Namun, umumnya wanita menggunakan cincin tunangan di jari manis tangan kiri dan cincin kawin di jari manis tangan kanan.

Aturan Menggunakan Cincin Tunangan untuk Pria

Tak banyak pria yang menggunakan cincin tunangan. Sekitar tahun 2011, hanya ada sekitar 5% pria yang menggunakan cincin tunangan. 

Bagi beberapa pasangan, menggunakan cincin tunangan tergantung selera masing-masing dan tak ada aturan yang membahas mengenai hal ini. Aturan penggunaannya pun sama dengan wanita, saat tunangan menggunakan di jari manis tangan kiri dan saat menikah dipindahkan ke jari manis tangan kanan.

Aturan Cincin Tunangan Setelah Putus

Tak ada perjanjian dengan kontrak tertulis yang mengharuskan wanita mengembalikan cincin tunangan setelah putus. Jadi, jika pertunangan tidak berjalan lancar dan menyebabkan sepasang calon pengantin harus putus maka tak ada kewajiban wanita untuk mengembalikan cincin tunangan.

Namun, walaupun begitu sang wanita harus menawarkan diri untuk mengembalikan cincin tunangan, meskipun pada akhirnya pria tak menerima cincin tersebut kembali. Selain itu, jika ada kesepakatan antara pria dan wanita untuk menjual cincin tersebut pun diperbolehkan dan uang hasil penjualan biasanya akan dibagi dua.

Yang perlu digarisbawahi adalah aturan-aturan cincin tunangan tersebut tidak mengikat siapa pun. Kamu bisa memilih untuk mengikutinya atau tidak berdasarkan kesepakatanmu dengan pasangan.

Sumber:
https://www.orori.com/ororeads/cincin-tunangan-dan-beberapa-aturannya

Cincin Tunangan: Harga Ideal & Aturan-aturan Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat datang, nikmati semua pelayanan dari kami Dismiss